Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

3 Jenis Tingkatan Bahasa menurut penggunaanya Dalam Bahasa Bali

 3 Jenis Tingkatan Bahasa menurut penggunaanya Dalam Bahasa Bali


Jika Anda saat ini sedang berlibur atau berkunjung ke bali dalam sebuah acara resmi, maka pembicaranya biasanya akan mengawali dan juga menutup kata-kata sambutan pada acara tersebut dengan kata-kata dan kalimat khas suku bali sebagai daerah setempat. Sebagian para pengunjung khususnya selain suku bali ataupun orang-orang dari luar daerah bali mungkin tidak akan memahami makna dan artinya. 

Bahasa Bali merupakan sebuah bahasa persenyawaan Austronesia, khususnya dari bagian dan cabang Sundik, atau secara lebih khusus dari Bali-Sasak. Penggunaan Bahasa ini secara special digunakan di Pulau Bali, Lombok pada bagian baratnya, serta pada sebagian ujung timur dari Pulau Jawa.

Berikut adalah contoh kata-kata sambutan dalam acara resmi di bali, khususnya pada bagian Kata-kata Pembuka atau Perkenalan, yaitu:

Om-Swastiastu

Rahajeng-Semeng (selamat pagi); rejeng Tengahi (selamat siang), rejeng Sande (selamat sore), rejeng Wengi (Selamat Malam).

Punapi-gatra artinya (Apa kabar)

Dumogi-becik-becik-kemanten artinya (Semoga-baik-baik saja)

Wastan-tiang…… (Nama saya……)

Tiang-saking…… (Saya dari……)

Tiang-mekarya ring (saya kerja di……) dados (sebagai) ……

Adapun kata-kata untuk menutup sebuah sambutan pidato adalah sebagai berikut.

Nika-manten dari-tiang (Ini-saja dari-saya)

Kirang-langkung, nunas-sinampura (Lebih-kurangnya, mohon-maafnya)

Om Santi, Santi, Santi


Jenis-Jenis Bahasa Bali

Menurut Wayan Gaing, Bahasa Bali memiliki tiga jenis dan tingkatan, yaitu:


1. Bahasa Bali Alus-inggih (ASI)

Jenis Bahasa Bali-Alus biasanya hanya digunakan pada saat formal, misalnya pada pertemuan formal dan resmi di berbagai tingkat desa maupun adat, saat acara meminang wanita, atau pun saat berbicara dengan tokoh atau orang yang sangat dihormati dan memiliki posisi atau kedudukan tertentu. Bahasa Alus juga sering digunakan saat seseorang berbicara atau berhadapan dengan tokoh agama dan adat.

Tingkatan penuturan dalam bahasa Bali disebut pula dengan istilah ‘Sor Singgih Basa’ atau juga undak-usuk basa, yang kemudian dapat dibedakan lagi menjadi dua jenis, yaitu basa-singgih atau disebut juga basa-alus dan jenis kedua yaitu basa-sor. Ragam bahasa yang di dalamnya terdapat penghormatan pada bahasa Bali disebut dengan basa-singgih atau basa-alus.

Selain itu, Basa-singgih atau basa-alus dapat dibagi lagi ke dalam : basa-alus singgih, basa-alus sor, dan basa-alus madia. Sedangkan untuk basa-sor dibedakan menjadi dua, yaitu basa-kasamen dan juga basa-kasar. Hal ini menurut Tim Peneliti dari Fakultas-Sastra Universitas-Udayana Denpasar pada tahun 1979.

Basa alus-singgih merupakan bahasa yang hanya dipakai saat berhadapan dengan orang dengan status yang lebih tinggi ataupun orang sangat dihormati. Berikut adalah contoh kata-kata dalam basa alus singgih Bali, yaitu:


  1. Seda artinya (meninggal/wafat) 
  2. Mantuk artinya (pulang) 
  3. Ngandika  artinya (berbicara)
  4. Ngaksi artinya (melihat) 
  5. Ngerayunang artinya (makan)
  6. Iratu artinya (anda/bapak/ibu) 
  7. Memargi artinya (pergi) 
  8. Rauh artinya (datang) 
  9. Ida artinya (dia/ia)
  10. Mireng artinya (mendengar)


2. Bahasa Bali-Madya 

Basa alus-sor bali merupakan bahasa yang sering dipakai untuk merendah diri khususnya waktu berbicara dengan tokoh atau orang yang statusnya lebih ditinggikan ataupun orang yang sangat dihormati. Contoh basa bali-madya adalah sebagai berikut:


  1. Padem artinya (meninggal)
  2. Budal artinya (pulang) 
  3. Matur artinya (berbicara)
  4. Ngatonang artinya (melihat)
  5. Nglungsur artinya (makan)
  6. Titiang artinya (saya )
  7. Tambet artinya (bodoh)
  8. Miragi artinya (mendengar)
  9. Wasta artinya (nama)
  10. Ipun artinya (ia, dia)


Basa alus-madia juga merupakan jenis dan ragam bahasa bali yang cukup halus dan sedang, jenis ini bisa anda pakai saat berhadapan dengan orang yang status sosialnya lebih tinggi, dapat pula digunakan pada orang yang sepadan dengan anda, orang yang anda belum dikenal, maupun orang dengan status social yang lebih di bawah  dari anda, dengan maksud untuk menjunjung tinggi dan menghormatinya. Jenis dan Ragam bahasa inilah yang paling banyak dan umumnya dipakai dalam keseharian oleh masyarakat Bali. 

Adapun contoh kata-kata yang masuk di dalamnya yaitu: 

  1. Padem artinya (meninggal)
  2. Mantuk artinya (pulang) 
  3. Mebaos artinya (berbicara)
  4. Nyingakin artinya (melihat) 
  5. Ngajeng artinya (makan)
  6. Tiang artinya (saya)
  7. Sirep artinya (tidur)
  8. Meriki artinya (mari) 
  9. Sampun artinya (sudah) 
  10. Durung artinya (belum)


3. Basa sor 

Basa Sor merupakan bahasa yang sering dipakai saat berhadapan dengan orang yang status sosialnya lebih dibawah dari pembicara, sama atau sepadan, dan juga terhadap orang-orang yang dekat dan sangat akrab. Basa sor terbagi atas basa-kasamen dan basa-kasar. 

Basa-kasamen merupakan jenis bahasa bali biasa yang tidak halus secara norma, namun juga tidak bernilai kasar, sehingga ia bisa dipakai kepada siapa saja dan juga boleh digunakan oleh siapa saja. Contohnya yaitu sebagai berikut : 


  1. Gedeg artinya (marah).
  2. Pules artinya (tidur) 
  3. Mai artinya (mari)
  4. Icang artinya (saya). 
  5. ejalan artinya (pergi)
  6. Teka artinya (datang) 
  7. Madaar artinya (makan)
  8. Mulih artinya (pulang)
  9. Cai artinya (kamu-laki-laki)
  10. Pesu artinya (keluar)

 

Basa-kasar merupakan jenis bahasa bali yang hanya dipakai pada orang yang betul-betul akrab, saat marah, dan bahkan terhadap binatang. Contoh kata-katanya adalah sebagai berikut: 

  1. Bangka artinya (mati  atau meninggal). 
  2. Medem artinya (tidur) 
  3. Leklek artinya (makan) 
  4. beler artinya (nakal atau kurang ajar)



Posting Komentar untuk " 3 Jenis Tingkatan Bahasa menurut penggunaanya Dalam Bahasa Bali"